Penumpang Kapal Batulicin Membludak

13 September 2009. editor13

BATULICIN, MINGGU – Arus mudik menggunakan kapal laut yang sandar di Pelabuhan Samudera Batulicin, membludak. Penumpang yang akan diangkut tiga kapal, menjadikan semua emperan toko sebagai tempat tidur menunggu keberangkatan.

"Kami rombongan dari Sungai Durian sengaja bermalam di kompleks pelabuhan ini, dari pada tidak kebagian tiket," ujar Makmur yang Sabtu dinihari masih duduk di emperan toko kawasan pelabuhan.   

Di sepanjang kawasan pelabuhan itu hampir tidak ada ruang kosong, semuanya dijadikan tempat istirahat calon penumpang yang menunggu tiga kapal jurusan Surabaya, Semarang dan Makassar.

Begitu Kapal Pelni Binaiya merapat, calon penumpang yang jumlahnya sekitar seribu itu langsung menyerbu, merebut menaiki anak tangga kapal.

Menurut Asisten Manajemen Usaha Pelni Cabang Batulicin, Putra Kencana, jumlah penumpang yang berangkat dari Batulicin ke Surabaya dengan Kapal Binaiya Sabtu (12/9) dinihari berjumlah 950 orang. "Kapal itu dari Makassar membawa penumpang 180 orang," jelasnya.

Jumlah ini melonjak dibandingkan hari biasa yang berkisar 400-500 orang. "Berarti lonjakannya sudah 100 persen," ujar Putra.

Apalagi, menurutnya, pemberangkatan kapal Pelni Sabtu itu adalah yang terakhir dan baru kembali sandar di Pelabuhan Samudera Batulicin pada H plus 2 yaitu 22 September. Menurut Putra ini memang ketentuan, setiap kapal melayani pelayaran 14 hari sekali.

"Tetapi di sela-sela tanggal itu, masih ada kapal non Pelni  tujuan Makassar dan Surabaya," jelasnya.

Disebutkannya, biaya tiket, untuk kelas ekonomi ke Surabaya Rp166 ribu, Semarang Rp206 ribu. Sedangkan untuk yang berkelas Rp505 ribu.

Untuk mengantisipasi lancarnya mudik lebaran, tim gabungan pun diturunkan setiap pemberangkatan kapal dan termasuk diadakannya mobil puskesmas di pelabuhan.

Silakan Tidur

Ratusan calon penumpang yang memenuhi setiap emperan rumah toko (ruko) di sepanjang kawasan Pelabuhan Samudra Batulicin, ternyata dirasakan pemiliknya sebagai hal yang biasa.

"Sama sekali tidak keberatan, silakan mereka tidur di sini," ujar Nur, seorang pemilik ruko.

Apalagi, menurutnya, mereka hanya menginap beberapa jam, sambil menunggu sandarnya kapa-kapal yang akan membawa mereka pulang kampung. "Toh, tidak setiap malam seperti ini," ujarnya lagi.

Sumber : BPost Online