Untung-untungan Mobil Tarikan

6 November 2006. admin

Kalau tak mampu membeli mobil baru, cobalah berburu mobil tarikan dari lembaga pembiayaan. Selain harganya murah, kondisinya juga lumayan bagus. Permintaan mobil bekas tarikan ini semakin meningkat.

Pedagang mobil bekas di antero negeri ini jumlahnya tidak terhitung. Dari pedagang yang menggelar dagangan mobil mereka di rumah atau yang punya showroom beribu meter persegi. Pembeli mobil bekas tidak pernah kehilangan pasokan.

Dari mana datangnya mobil bekas, memang, hanya si pedagangnya yang tahu. Namun, Anda yang tertarik berburu mobil bekas bisa menyasar langsung ke sumbernya, yakni lembaga pembiayaan. Mobil bekas dari lembaga pembiayaan, yang kerap disebut mobil tarikan, nyaris tidak berbeda dengan mobil bekas biasa. Hanya, usia mobil tarikan rata-rata tergolong lebih muda.

Beberapa lembaga pembiayaan yang dihubungi KONTAN, seperti ACC dan Adira, mengaku mobil tarikan mereka yang tertua adalah tahun 2004. “Keluaran tahun berjalan (2006) sampai tertua tahun 2004 tersedia di sini,” ucap Ignatius Susatyo Wijoyo, Kepala Divisi Repo Asset Management Adira Finance. Masih cukup gres, kan? Maklumlah, mobil baru itu ditarik ketika si empunya tidak kuat lagi membayar cicilan. “Umumnya mobil itu kami tarik karena cashflow,” jelas Antonius Hartono, Kepala Remarketing Astra Credit Company. Artinya, si nasabah kesulitan membayar angsuran mobilnya.

Menurut Aditya Shahrizal, Deputi Direktur U Finance Indonesia, sebab utama si nasabah sulit membayar angsuran adalah uang muka (down payment) yang rendah. Karena persaingan ketat, banyak perusahaan pembiayaan melonggarkan uang muka, lalu menghajarnya dengan angsuran bulanan yang cukup tinggi. “Akhirnya, nasabah sulit membayar,” ungkap Aditya.

Lantaran mau dijual lagi, masing-masing perusahaan pembiayaan punya cara untuk menjaga kondisi mobil tarikan mereka. Maklum, penjualan mobil tarikan pun menjadi sumber duit bagi lembaga pembiayaan tersebut.

Adira Finance, misalnya, berusaha menjamin kondisi mobilnya dengan membuat surat somasi kepada nasabah mereka, setelah melakukan penarikan mobil. “Dua hari setelah mobil ditarik, kita layangkan surat somasi kepada pemilik mobil untuk mempertanggungjawaban utang dan kondisi mobil,” ujar Susatyo.

Namun, ada banyak kejadian pemilik yang tak kuat mencicil itu sudah mempereteli onderdil mobil sebelum mobil itu ditarik. Hal itu diakui Roby Yanto, Presiden Direktur Balai Lelang Batavia, yang biasa menjual mobil tarikan. “Kalau memang ngerti mobil dan mau capek, beli saja mobil tarikan. Tapi, kalau enggak, mendingan jangan, deh,” saran Roby terus terang.

Tak menjual langsung ke pengguna

Di ACC, saat ini, jumlah mobil tarikan rata-rata mencapai 1.200 unit per bulan. Jumlah ini, menurut Antonius, telah mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan dengan tahun lalu. Sedangkan pasokan mobil tarikan di Adira Finance mencapai 300-an unit per bulannya. “Jumlah mobil tarikan sekarang turun sampai 15%. Akhir semester lalu mencapai 500 unit per bulan,” ungkap Susatyo.

Penyebabnya bukan karena semakin banyak orang mampu mengangsur tanpa macet, namun karena pasar otomotif memang anjlok sampai 40% daripada tahun lalu. Menurut data Gaikindo, pasar mobil baru tahun ini diperkirakan mencapai 310.000 unit, turun dari sekitar 500.000 unit mobil baru tahun 2005. Adapun pasar mobil bekas, menurut data yang pernah dirilis ACC, diperkirakan sekitar 400.000 unit setahun.

Meski cenderung mengecil, para peminat mobil tarikan ternyata tetap saja. Menurut Susatyo, selama tiga bulan terakhir, mobil tarikan Adira selalu ludes terjual. “Sampai seperti setengah inden,” katanya. Di Balai Lelang Batavia, dari 100 unit mobil yang dilelang, peminatnya mencapai 400 orang.

Menurut peraturan, lembaga pembiayaan memang tidak boleh langsung menjual mobil tarikan mereka kepada konsumen. Mobil bekas tersebut, lebih dahulu harus dilego ke balai lelang atau showroom mobil bekas milik perorangan atau perusahaan. Misalnya saja, Adira yang memilih menjual mobil tarikannya ke 300 dealer yang menjadi rekanan mereka.

Melongok harganya, banderol mobil tarikan dari lembaga pembiayaan ini memang cukup menggiurkan. Roby bilang, lazimnya balai lelang melepas barang dengan harga 15% lebih murah ketimbang harga pasar. Ia memberi contoh mobil-mobil dari Eropa. “Kalau mencari mobil Eropa, balai lelang tempatnya, karena harganya turun banget,” ujarnya. Mercedes Benz C200, misalnya, dijual dengan harga Rp 50 juta. Harga mobil Jepang dan Korea tarikan pun cukup menggoda. Suzuki Carry tahun 2005, yang di Balai Lelang Batavia ditawarkan Rp 20 juta, laku terjual dengan harga Rp 15 juta.

Adapun mobil-mobil bekas berumur muda yang dilepas Adira Finance, menurut Susatyo, dilego dengan harga antara Rp 60 juta sampai Rp 80 juta.

Nah, apakah Anda tertarik untuk ikut berburu?

+++++

Teliti sebelum Membeli

Walaupun harganya miring, tidak banyak konsumen mobil bekas yang melirik mobil tarikan. Lazimnya, konsumen ragu dengan kondisi mobil tarikan lembaga pembiayaan yang dicurigai sudah dipereteli dan diganti onderdilnya. “Di sini orang masih enggan karena khawatir kondisinya. Jadi, beli tarikan dari balai lelang atau showroom itu belum membudaya,” kata Antonius Hartono, Kepala Remarketing Astra Credit Company.

Nah, jika memang berniat untuk berburu mobil tarikan leasing, tak ada salahnya mengikuti tip yang diberikan oleh Antonius berikut ini.

Sebelum memutuskan untuk membeli, periksa dengan teliti bodi mobil, apakah masih mulus, masih original, atau bahkan aspal.

Jangan ketinggalan periksa interior mobil dan suspensi. Antonius menyarankan agar pembeli membawa teknisi sendiri yang dipercaya untuk memeriksa dan mencoba mobil bekas tersebut.

Mintalah buku servis yang lazim tersedia bersama dengan unit mobil. “Kalau di situ ada nama yang berbeda-beda, berarti pernah digadaikan,” jelas Ignatius Susatyo Wijoyo, Kepala Divisi Repo Asset Management Adira Finance. Anda sebaiknya mewaspadai mobil yang pernah digadaikan. Menurut Susatyo, ada kalanya ketika digadaikan itulah mobil justru dipereteli onderdilnya.